Monday, June 27, 2016

Tugas Penulisan Softskill

Nama  : Zahrah Khairunnisa
Kelas   : 1PA14
Npm    : 17515381




Program Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular

A.  Program Pengendalian Penyakit secara Umum
1.      HIV AIDS
Pengertian
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyebabkan AIDS. Seseorang yang terinfeksi HIV, akan mengalami infeksi seumur hidup.  Kebanyakan orang dengan HIV/AIDS (ODHA) tetap asimtomatik  (tanpa tanda dan gejala dari suatu penyakit ) untuk jangka waktu panjang. Meski demikian, sebetulnya mereka telah dapat menulari orang lain. 
AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome.
Acquired : Tidak diturunkan dan dapat menularkan kepada orang lain
Immune : sistem kekebalan tubuh terhadap penyakit
Deficiency : Berkurangnya kurang atau tidak cukup
Syndrome : adalah kumpulan tanda dan gejala penyakit. 
AIDS adalah bentuk lanjut dari infeksi HI. Virus ini menyerang sistim kekebalan yang membuat orang tak berdaya. HIV berjalan sangat progresif merusak sistem kekebalan tubuh. Kebanyakan orang dengan HIV akan meninggal dalam beberapa tahun setelah tanda pertama AIDS muncul, bila tidak ada  pelayanan dan terapi yang diberikan. Sesudah virus HIV memasuki tubuh seseorang, maka tubuh akan terinfeksi dan virus mulai mereplikasi diri dalam sel orang tersebut (terutama sel T CD4 dan makrofag). HIV akan mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dengan menghasilkan antibodi untuk HIV.
            Masa antara masuknya infeksi dan terbentuknya antibodi yang dapat dideteksi melalui pemeriksaan laboratorium adalah selama 2-12 minggu, masa ini disebut sebagai masa jendela (window period). Selama masa jendela, pasien sangat infeksius, mudah menularkan kepada orang lain, meski hasil pemeriksaan laboratoriumnya masih negatif. Hampir 30-50% orang mengalami masa infeksi akut pada masa infeksius ini yakni demam, pembesaran kelenjar getah bening, keringat malam, ruam kulit, sakit kepala dan batuk.

Cara penularan  HIV

Penularan HIV terjadi melalui kontak Kontak Seksual, Produk Darah, dan dari ibu ke anak.
1)  Hubungan Seksual
Penularan melalui hubungan seksual adalah cara yang paling dominan dari semua cara penularan. Penetrasi atau Sanggama berarti kontak seksual dengan penetrasi vaginal, anal, dan oral seksual antara dua individu. Risiko tertinggi adalah penetrasi vaginal atau anal yang tak terlindung dari individu yang terinfeksi HIV. Kontak seksual langsung  (mulut ke penis atau  mulut ke vagina) masuk dalam kategori risiko rendah tertular HIV.
2)  Pajanan oleh darah terinfeksi, produk darah atau transplantasi organ dan jaringan:
Penularan dari darah dapat terjadi jika darah donor tidak di lakukan uji saring untuk antibodi HIV, penggunaan ulang jarum dan semprit suntikan secara bergantian, atau penggunaan alat medik yang tidak disterilkan. Pajanan HIV pada organ dapat terjadi dalam proses transplantasi jaringan / organ di pelayanan kesehatan.
3)  Penularan dari ibu-ke-anak:
Kebanyakan infeksi HIV pada anak didapat dari ibu yang terinfeksi HIV saat ia dikandung, dilahirkan, dan menyusui. Risiko penularan tanpa intervensi, sangat bervariasi di satu negara dengan negara lain dan umumnya diperkirakan antara 25-40% di negara berkembang dan 16 - 20% di Eropa dan Amerika Utara.
Bagaimana mencegah Infeksi HIV
Sampai saat ini belum ada vaksin untuk mencegah infeksi HIV dan belum ada obat untuk menyembuhkan
Pencegahan penularan HIV
·      Berperilaku seks yang aman
·      Pencegahan penularan melalui alat-alat tercemar dengan prinsip kewaspadaan standar
·      Pencegahan pada transfusi darah dengan skrining
·      Program pencegahan penularan ibu ke anak

1)  Pencegahan penularan melalui hubungan seksual :
Berperilaku seksual yang aman dan bertanggung jawab
A.  Abstinensia    =  puasa seks
B.  Be faithfull      =  setia pada satu pasangan
C.  Condom          =  gunakan kondom pada setiap hubungan seks berisiko
D.   Hindari Drugs (NAPZA)
2)  Pencegahan penularan melalui darah :
a.  Skrining seluruh darah donor, produk darah dan organ transplantasi
b.  Mereka yang berisiko jangan mendonorkan darah (“donor deferal”)
c.   Desinfeksi alat suntik dan alat lain yang dapat melukai kulit
d.  Tidak menggunakan jarum suntik secara bergantian (contoh PENASUN)
3)  Pencegahan penularan dari ibu ke anak
a.  Ibu HIV positif sebaiknya tidak hamil
b.  Pemberian antiretroviral kepada ibu HIV positif dan bayinya
c.   Sectio cesaria (persalinan melalui bedah)
d.  Kalau mampu membeli susu dan tersedia air bersih, jangan  berikan ASI.

2.      Tuberculosis (TB)
Definisi
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Micobacterium  tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.
Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2 minggu lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, demam meriang lebih dari satu bulan.
Kuman TB  berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan Ziehl Neelsen, oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dormant, alias tidur lama selama beberapa tahun.

Cara penularan
·         Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif. Pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup ke dalam saluran napas. Setelah kuman TB masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernapasan, ia dapat menyebar dari paru ke bagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem saluran getah bening atau menyebar langsung ke bagian-bagian tubuh lain.
·         Daya penularan dari seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman,tingginya derajat positif kuman, dan lamanya menghirup droplet di udara.

Strategi Pengendalian TB
1)  Penemuan Kasus :
Penemuan kasus TB di Lapas dan Rutan dapat dilakukan melalui:
a)    Penemuan kasus TB secara aktif, dilakukan melalui skrining (penjaringan/ penapisan) dan pemeriksaan kontak dengan menggunakan form skrining seperti dibawah ini
·         Skrining dilakukan terhadap:
Ø  WBP dan Tahanan pada saat masuk di dalam Lapas/Rutan bersamaan dengan proses pemeriksaan kesehatan awal dan pengisian Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dan
Ø  WBP dan Tahanan yang termasuk dalam kelompok risiko tinggi mengidap TB, termasuk ODHA.

·         Pelacakan dan Pemeriksaan  kontak (skrining di dalam Lapas/Rutan) dilakukan terhadap:
WBP dan Tahanan yang berada satu sel dan sering melakukan kegiatan bersama  dengan WBP dan tahanan yang baru didiagnosis menderita TB paru BTA positif.

Cara melakukan skrining dan pemeriksaan kontak:
Skrining dan pemeriksaan kontak dilakukan dengan menanyakan atau menemukan gejala utama TB paru dewasa, yakni batuk berdahak selama 2 minggu atau lebih dan lainnya, menggunakan formulir skrining.

b)    Penemuan kasus TB secara pasif, sama seperti penemuan kasus di Puskesmas, yakni memeriksa WBP dan Tahanan yang datang secara sukarela ke poliklinik atau klinik Lapas dan Rutan.

2)  Diagnosis Tuberkulosis

a)    Diagnosis TB paru pada orang dengan HIV negatif

·         Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 3 kali berturut-turut, dikumpulkan selama 2 hari, yaitu sewaktu - pagi - sewaktu (SPS).

·         Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB. Pemeriksaan lain seperti foto toraks, biakan kuman dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya.

b)   Diagnosis TB ekstra paru orang dengan HIV negatif

·         Gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena, misalnya kaku kuduk pada Meningitis TB, nyeri dada pada TB pleura (Pleuritis), pembesaran kelenjar limfe (leher, ketiak, dll) pada limfadenitis TB dan deformitas tulang belakang (gibbus) pada spondilitis TB dan lain-lainnya.
·         Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan klinis, bakteriologis dan atau histopatologi yang diambil dari jaringan tubuh yang terkena

c)    Diagnosis TB pada Orang Dengan HIV AIDS (ODHA)

Pada ODHA gejala batuk tidak selalu menjadi gejala yang utama. TB dapat bermanifestasi sebagai tanda yang tidak spesifik seperti demam yang lama, penurunan berat badan, diare atau gejala-gejala yang mengarah kepada adanya TB ekstra paru yang terjadi bersamaan.

Diagnosis TB paru dan TB ekstra paru ditegakkan sebagai berikut:

·         TB Paru BTA Positif,  meskipun hanya satu sediaan dahak positif dan test HIV positif atau gambaran klinis infeksi HIV yang jelas.
·         TB Paru BTA negatif, meskipun hasil sediaan dahak negatif, dan gambaran radiologis mendukung TB, dan test HIV positif atau gambaran klinis infeksi HIV yang jelas, keputusan diagnosa dan pengobatan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) oleh dokter, atau BTA negatif dengan hasil kultur TB positif

3)  Pengobatan:
Prinsip pengobatan TB di lapas/rutan
·         Obat Anti-TB harus diberikan dalam bentuk kombinasi (paduan) beberapa jenis obat dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Penggunaan 1-2 macam OAT saja (dosis tunggal/monoterapi) berisiko menimbulkan kekebalan obat (Multi-Drug Resistant/MDR, atau Extensively Drug-Resistence/XDR) dan berakibat pasien tidak sembuh.
·         Untuk menentukan paduan pengobatan disesuai klasifikasi penyakit dan tipe penderita TB.
·         Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap awal (intensif) dan lanjutan.
Ø  Tahap awal (intensif)
Selama kira-kira 2-3 bulan pertama setelah didiagnosis, pasien menelan obat (OAT) setiap hari.
Ø  Tahap lanjutan
Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat (OAT) lebih sedikit, diminum 2 hari sekali atau 3 kali seminggu, dan untuk jangka waktu yang lebih lama (sekitar 4 bulan atau lebih)
·         Mengingat pengobatan yang cukup lama dan untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, penanggulangan TB dengan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) mensyaratkan perlunya seorang Pengawas Menelan Obat (PMO)

4)  Pencegahan dan Pengendalian TB:
Pencegahan dan Pengendalian TB sesuai dengan tabel di bawah ini :
No.
Kegiatan
Keterangan
1.
Skrining
·         Penjaringan suspek atau pasien TB secara dini. Hal ini dilakukan dengan menggunakan form skrining TB. Pasien dengan gejala batuk 2 minggu atau lebih atau dilaporkan memiliki riwayat kontak dengan pasien TB perlu dipisahkan (isolasi) sementara dari WBP dan tahanan lainnya.
  
2.
Edukasi
Mewajibkan WBP dan tahanan untuk menutup hidung dan mulut saat batuk/bersin, bila perlu berikan saputangan/masker/tisu.
Tidak meludah sembarang tempat.
3.
Pemisahan
Suspek/pasien TB harus dipisahkan dari WBP dan tahanan lainnya dan ditempatkan di dalam suatu ruang tersendiri.
4.
Diagnosis dan rujukan TB
Diagnosis TB sebaiknya dilakukan di dalam Lapas/Rutan. Jika tidak tersedia fasilitas untuk diagnosis maka harus dirujuk ke FASYANKES yang memiliki fasilitas diagnosis mikroskopik dahak.
5.
Pengelolaan hunian yang sehat
Ventilasi ruangan dan pencahayaan yang cukup, sirkulasi udara yang baik. Pengelolaan sanitasi, termasuk dengan mengurangi kepadatan hunian
6.
Penyediaan alat pelindung bagi petugas
Penggunaan masker khusus bagi petugas pada saat melaksanakan pemeriksaan.



3.      Infeksi Menular Seksual
Definisi
·      IMS adalah infeksi yang terjadi karena penularan melalui hubungan seksual.
·      Pengendalian IMS adalah upaya yang dilakukan secara komprehensif dan integratif untuk menurunkan angka kesakitan dan angka kematian akibat IMS.
Penyebab
·      Beberapa organisme penyebab:
1.    Bakteri: Neisseria gonorrhoeae, Chlamydia trachomatis, Treponema pallidum, Gardanella vaginalis, Haemophilus ducreyi, Donavania granulomatis, Mycoplasma hominis, Ureaplasma urealycum.
2.    Virus: Herpes simplex, Human papilloma, Hepatitis, Cytomegalovirus, HIV.
3.    Protozoa: Trichomonas vaginalis
4.    Jamur: Candida albicans
5.    Ektoparasit: Phtirus pubis, Sarcoptes scabei.

Perilaku yang dapat mempermudah penularan IMS?
Berhubungan seks berisiko antara lain :
·         berganti-ganti pasangan,
·         pelacuran,
·         tidak menggunakan kondom saat melakukan seks berisiko

Gejala IMS:
·      Keputihan yang tidak  normal
·      Keluar cairan tidak normal dari penis
·      Luka pada dan sekitar alat kelamin
·      Nyeri perut bagian bawah pada perempuan
·      Pembengkakan testis / skrotum
·      Tumbuhan vegetasi (kutil/jengger)
·      Radang mata pada bayi baru lahir

Jenis-jenis IMS antara lain :
1.  Gonore  Kencing nanah, uretritis spesifik (GO)
Disebabkan oleh kuman Neisseria gonorrhea. Terjadi di seluruh dunia; menyerang laki-laki dan perempuan semua usia, terutama kelompok dewasa muda. Jenis yang kebal obat sekarang muncul secara umum dimana-mana. Selama beberapa bulan, pasien yang tidak diobati bisa menulari orang lain. Terinfeksi dengan klamidia pada saat yang bersamaan juga bukanlah hal yang janggal.

Gejala dan tanda
Pada laki-laki dan perempuan, infeksi ini bisa tanpa gejala. Pada laki-laki, cairan yang kental dari saluran kencing akan keluar 2-7 hari setelah terinfeksi. Biasanya orang menderita sakit waktu kencing. Bila orang melakukan seks anal, mungkin juga keluar cairan yang sama dari dubur. Pada perempuan, gejala biasanya ringan dan ada kemungkinan untuk tidak terdeteksi. Mungkin ada perasaan tidak enak waktu kencing. Selain itu, mungkin ada sedikit cairan dan sedikit gangguan di vagina. Infeksi yang kronis umum terjadi dan bisa menyebabkan kemandulan. Bayi baru lahir yang terinfeksi gonore, matanya merah dan bengkak. Dalam waktu 1-5 hari setelah kelahiran, mata itu akan mengeluarkan cairan yang kental. Kebutaan bisa terjadi bila pengobatan khusus tidak segera diberikan.

Diagnosis adalah dengan pemeriksaan mikroskopik gramstrain dari smear yang diambil dari cairan itu ataupun dengan cara pembiakan

2.  Klamidia / Uretritis non-gonore, uretritis non-spesifik (UNS)
Antara 35-50 persen dari kasus penyakit kelamin non-gonore diperkirakan disebabkan oleh Chlamydia trachomatis, yang terjadi secara umum di seluruh dunia. Pada perempuan, penyakit ini bisa menyebabkan radang leher rahim mucopurulent walaupun infeksi biasanya tanpa gejala. Infeksi klamidia yang terjadi berulang kali biasanya bisa menyebabkan penyakit peradangan leher rahim kronis dan kemandulan. Penularan terjadi lewat sanggama. Penyakit ini bisa menyerang baik laki-laki maupun perempuan semua usia, terutama dewasa muda.
Gejala dan tanda
Sama seperti gonore. Perbedaan adalah banyak perempuan yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala apapun. Komplikasi yang menyebabkan kemandulan pada perempuan juga umum terjadi. Infeksi mata mungkin menyerang bayi yang dilahirkan oleh perempuan yang terinfeksi. Diagnosis biasanya didasari oleh tidak adanya kuman penyebab gonore pada smear atau pada pembiakan cairan dari leher rahim atau dari uretra (lubang kencing).Hal ini bisa dipastikan dengan mengetes cairan smear untuk melihat adanya antigen klamidia.

3.  Sifilis / Raja singa
Disebabkan oleh Treponema pallidum, yaitu sebuah spirochete (bakteri yang berbentuk spiral). Terjadi di seluruh dunia, terutama menyerang dewasa muda usia 20-35 tahun, lebih lazim terjadi di daerah perkotaan. Baru-baru ini ada kenaikan jumlah kasus di beberapa negara industri yang dihubungkan dengan penggunaan narkoba dan pelacuran. Penularan terjadi melalui kontak langsung antara luka (yang bernanah atau yang membengkak) di kulit dengan selaput lender atau dengan cairan tubuh (air mani, darah,cairan vagina) selama sanggama.Penularan bisa terjadi melalui transfuse darah bila donor berada dalam tahap awal infeksi tersebut. Infeksi bisa ditularkan dari seorang ibu yang terinfeksi kepada bayinya yang belum lahir. Hal ini merupakan penyebab penting terjadinya kelahiran bayi yang meninggal di daerah daerah endemis

Gejala dan tanda
Sebuah luka mula-mula muncul beberapa minggu setelah tertular, luka ini biasanya merupakan borok yang tidak sakit di daerah tempat hubungan pertama kali terjadi (penis, leher rahim, dubur, dinding belakang kerongkongan/faring). Kuman kemudian memasuki aliran darah; dalam waktu 1-3 bulan muncul tahap kedua. Tahap ini ditandai dengan ruam yang menyebar dan pembengkakan kelenjar. Setelah masa laten selama 5-20 tahun dengan sedikit atau tanpa gejala, tahap ketiga dari sifilis ini bisa termasuk penyakit-penyakit yang menyerang susunan saraf pusat atau sistim kardiovaskular, yang bisa menyebabkan kelumpuhan dan kematian muda. Diagnosis laboratorium biasanya dilakukan dengan memakai tes serologi dari darah atau cairan serebrospinal.

Strategi         
Strategi yang dilakukan mengacu kepada 4 pilar pengendalian IMS :
     Perubahan perilaku berisiko menjadi tidak berisiko
     Promosi penggunaan kondom secara terus menerus
     Keterlibatan sektor terkait untuk menciptakan lingkungan yang kondusif
     Layanan IMS (dan HIV-AIDS) yang memadai, baik untuk kelompok berperilaku risiko tinggi maupun non-risiko tinggi.

Kegiatan
1. Tatalaksana Kasus Komprehensif
     Skrining
     Pengobatan (pendekatan sindrom dan laboratorium)
     Rujukan
     pengobatan presumtif baik secara tunggal maupun periodik (periodic presumptive treatment)
2. Intervensi Perubahan Perilaku
    Pengembangan kelompok dukungan sebaya (KDS)
3. Penguatan Komunitas termasuk pemangku kepentingan dan mitra
    Pengembangan pokja
4. Promosi Penggunaan Kondom
     dikelompok risiko tinggi
     sebagai bagian layanan tatalaksana kasus
5. Penguatan Manajemen Program
     Pelatihan manajemen program
     Pelatihan tatalaksana kasus komprehensif
     Supervisi dan mentoring
6. Penguatan sistem logistik : obat, reagen, kondom
7. Monitoring dan Evaluasi

0 comments

Post a Comment