Nama : Zahrah Khairunnisa
Kelas : 1PA14
Npm : 17515381
Program Pengendalian dan Pencegahan
Penyakit Menular
A.
Program
Pengendalian Penyakit secara Umum
1.
HIV
AIDS
Pengertian
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah
virus yang menyebabkan AIDS. Seseorang yang terinfeksi
HIV, akan mengalami infeksi seumur hidup.
Kebanyakan orang dengan HIV/AIDS (ODHA) tetap asimtomatik (tanpa tanda dan gejala dari suatu penyakit )
untuk jangka waktu panjang. Meski demikian, sebetulnya mereka telah dapat
menulari orang lain.
AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome.
“Acquired” : Tidak
diturunkan dan dapat menularkan kepada orang lain
“Immune” : sistem kekebalan
tubuh terhadap penyakit
“Deficiency” : Berkurangnya
kurang atau tidak cukup
“Syndrome” : adalah kumpulan
tanda dan gejala penyakit.
AIDS adalah bentuk lanjut dari
infeksi HI. Virus ini menyerang sistim kekebalan yang membuat orang tak
berdaya. HIV berjalan sangat progresif merusak sistem
kekebalan tubuh. Kebanyakan orang dengan HIV akan meninggal dalam beberapa
tahun setelah tanda pertama AIDS muncul, bila tidak ada pelayanan dan terapi yang diberikan.
Sesudah virus HIV memasuki tubuh seseorang, maka tubuh akan terinfeksi dan
virus mulai mereplikasi diri dalam sel orang tersebut (terutama sel T CD4 dan
makrofag). HIV akan mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dengan menghasilkan
antibodi untuk HIV.
Masa antara masuknya infeksi dan
terbentuknya antibodi yang dapat dideteksi melalui pemeriksaan laboratorium
adalah selama 2-12 minggu, masa ini disebut sebagai masa jendela (window period). Selama masa jendela, pasien sangat infeksius, mudah menularkan kepada
orang lain, meski hasil pemeriksaan laboratoriumnya masih negatif. Hampir
30-50% orang mengalami masa infeksi akut pada masa infeksius ini yakni demam,
pembesaran kelenjar getah bening, keringat malam, ruam kulit, sakit kepala dan
batuk.
Cara penularan HIV
Penularan HIV terjadi melalui kontak Kontak Seksual, Produk Darah,
dan dari ibu ke anak.
1) Hubungan Seksual
Penularan melalui hubungan seksual
adalah cara yang paling dominan dari semua cara penularan. Penetrasi atau
Sanggama berarti kontak seksual dengan penetrasi vaginal, anal, dan oral
seksual antara dua individu. Risiko tertinggi adalah penetrasi vaginal atau
anal yang tak terlindung dari individu yang terinfeksi HIV. Kontak seksual
langsung (mulut ke penis atau mulut ke vagina) masuk dalam kategori risiko
rendah tertular HIV.
2) Pajanan oleh darah terinfeksi, produk darah atau
transplantasi organ dan jaringan:
Penularan dari darah dapat terjadi jika darah donor tidak
di lakukan uji saring untuk antibodi HIV, penggunaan ulang jarum dan semprit
suntikan secara bergantian, atau penggunaan alat medik yang tidak disterilkan.
Pajanan HIV pada organ dapat terjadi dalam proses transplantasi jaringan /
organ di pelayanan kesehatan.
3) Penularan dari ibu-ke-anak:
Kebanyakan infeksi HIV pada anak didapat dari ibu
yang terinfeksi HIV saat ia dikandung, dilahirkan,
dan menyusui. Risiko penularan tanpa
intervensi, sangat bervariasi di satu negara dengan negara lain dan umumnya
diperkirakan antara 25-40% di negara berkembang dan 16 - 20% di Eropa dan Amerika
Utara.
Bagaimana mencegah Infeksi HIV
Sampai saat ini belum ada vaksin untuk mencegah
infeksi HIV dan belum ada obat untuk menyembuhkan
Pencegahan
penularan HIV
·
Berperilaku
seks yang aman
·
Pencegahan
penularan melalui alat-alat tercemar dengan prinsip kewaspadaan standar
·
Pencegahan
pada transfusi darah dengan skrining
·
Program
pencegahan penularan ibu ke anak
1) Pencegahan penularan melalui
hubungan seksual
:
Berperilaku
seksual yang aman dan bertanggung jawab
A. Abstinensia = puasa seks
B. Be faithfull = setia pada satu
pasangan
C. Condom = gunakan kondom pada setiap hubungan seks
berisiko
D. Hindari Drugs (NAPZA)
2) Pencegahan penularan melalui
darah :
a. Skrining seluruh darah donor,
produk darah dan organ transplantasi
b. Mereka yang berisiko jangan mendonorkan
darah (“donor deferal”)
c.
Desinfeksi
alat suntik dan alat lain yang dapat melukai kulit
d. Tidak menggunakan jarum suntik
secara bergantian (contoh PENASUN)
3) Pencegahan penularan dari ibu
ke anak
a. Ibu HIV positif sebaiknya
tidak hamil
b. Pemberian antiretroviral
kepada ibu HIV positif dan bayinya
c.
Sectio
cesaria (persalinan melalui bedah)
d. Kalau mampu membeli susu dan
tersedia air bersih, jangan berikan ASI.
2.
Tuberculosis
(TB)
Definisi
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh
kuman TB (Micobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman TB
menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.
Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama
2 minggu
lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah,
batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan
menurun, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, demam meriang lebih dari
satu bulan.
Kuman
TB berbentuk batang, mempunyai sifat
khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan Ziehl Neelsen, oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan
Asam (BTA). Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dormant, alias tidur lama selama beberapa tahun.
Cara
penularan
·
Sumber
penularan adalah pasien TB BTA positif. Pada waktu batuk atau bersin, pasien
menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet
(percikan dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada
suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut
terhirup ke dalam saluran napas. Setelah kuman TB masuk ke dalam tubuh manusia
melalui pernapasan, ia dapat menyebar dari paru ke bagian tubuh lainnya,
melalui sistem peredaran darah, sistem saluran getah bening atau menyebar
langsung ke bagian-bagian tubuh lain.
·
Daya penularan dari seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman,tingginya
derajat positif kuman, dan lamanya menghirup droplet di udara.
Strategi
Pengendalian TB
1) Penemuan Kasus :
Penemuan kasus TB di Lapas dan Rutan dapat dilakukan melalui:
Penemuan kasus TB di Lapas dan Rutan dapat dilakukan melalui:
a)
Penemuan
kasus TB secara aktif, dilakukan
melalui skrining (penjaringan/
penapisan) dan pemeriksaan kontak dengan menggunakan form skrining seperti
dibawah ini
·
Skrining dilakukan terhadap:
Ø WBP dan Tahanan pada saat masuk di
dalam Lapas/Rutan bersamaan dengan proses pemeriksaan kesehatan awal dan
pengisian Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dan
Ø WBP dan Tahanan yang termasuk dalam
kelompok risiko tinggi mengidap TB, termasuk ODHA.
·
Pelacakan dan Pemeriksaan kontak (skrining di dalam Lapas/Rutan)
dilakukan terhadap:
WBP dan Tahanan yang berada satu sel
dan sering melakukan kegiatan bersama
dengan WBP dan
tahanan yang baru didiagnosis menderita TB paru BTA positif.
Cara
melakukan skrining dan pemeriksaan kontak:
Skrining
dan pemeriksaan kontak dilakukan dengan menanyakan
atau menemukan gejala utama TB paru
dewasa, yakni batuk berdahak selama 2 minggu atau lebih dan lainnya,
menggunakan formulir skrining.
b)
Penemuan
kasus TB secara pasif, sama seperti
penemuan kasus di Puskesmas, yakni memeriksa WBP dan Tahanan yang datang secara sukarela ke
poliklinik atau klinik Lapas dan Rutan.
2) Diagnosis
Tuberkulosis
a) Diagnosis TB paru pada orang dengan HIV negatif
· Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 3 kali berturut-turut, dikumpulkan selama 2 hari, yaitu sewaktu - pagi - sewaktu (SPS).
· Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB. Pemeriksaan lain seperti foto toraks, biakan kuman dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya.
b) Diagnosis TB ekstra paru orang dengan HIV negatif
·
Gejala
dan keluhan tergantung organ yang terkena, misalnya kaku kuduk pada Meningitis
TB, nyeri dada pada TB pleura (Pleuritis), pembesaran kelenjar limfe (leher,
ketiak, dll) pada limfadenitis TB dan deformitas tulang belakang (gibbus) pada
spondilitis TB dan lain-lainnya.
·
Diagnosis
pasti ditegakkan dengan pemeriksaan klinis, bakteriologis dan atau histopatologi
yang diambil dari jaringan tubuh yang terkena
c) Diagnosis TB pada Orang Dengan HIV AIDS (ODHA)
Pada ODHA gejala batuk tidak selalu menjadi gejala yang utama. TB dapat bermanifestasi sebagai tanda yang tidak spesifik seperti demam yang lama, penurunan berat badan, diare atau gejala-gejala yang mengarah kepada adanya TB ekstra paru yang terjadi bersamaan.
Diagnosis TB paru dan TB ekstra paru ditegakkan sebagai berikut:
·
TB
Paru BTA Positif, meskipun hanya satu
sediaan dahak positif dan test HIV positif atau gambaran klinis infeksi HIV
yang jelas.
·
TB
Paru BTA negatif,
meskipun hasil sediaan dahak negatif, dan gambaran radiologis
mendukung TB, dan test HIV positif atau gambaran klinis infeksi HIV yang jelas,
keputusan diagnosa dan pengobatan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) oleh dokter, atau
BTA negatif dengan hasil kultur TB positif
3) Pengobatan:
Prinsip pengobatan
TB di lapas/rutan
·
Obat
Anti-TB harus
diberikan dalam bentuk kombinasi (paduan) beberapa jenis obat dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai
dengan kategori pengobatan. Penggunaan
1-2 macam OAT saja (dosis tunggal/monoterapi) berisiko menimbulkan kekebalan obat (Multi-Drug Resistant/MDR, atau Extensively Drug-Resistence/XDR) dan
berakibat pasien tidak sembuh.
·
Untuk
menentukan paduan pengobatan disesuai klasifikasi penyakit dan tipe penderita TB.
·
Pengobatan
TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu
tahap awal (intensif) dan lanjutan.
Ø
Tahap
awal (intensif)
Selama kira-kira 2-3 bulan pertama setelah didiagnosis,
pasien menelan obat (OAT) setiap
hari.
Ø Tahap lanjutan
Pada
tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat (OAT) lebih sedikit, diminum 2 hari sekali atau 3 kali seminggu, dan untuk jangka waktu yang lebih lama (sekitar 4 bulan atau lebih)
·
Mengingat
pengobatan yang cukup lama dan untuk menjamin kepatuhan
pasien menelan obat, penanggulangan TB
dengan strategi DOTS (Directly
Observed Treatment Short-course) mensyaratkan perlunya seorang Pengawas
Menelan Obat (PMO)
4) Pencegahan
dan Pengendalian TB:
Pencegahan dan Pengendalian TB sesuai dengan
tabel di bawah ini :
|
No.
|
Kegiatan
|
Keterangan
|
|
1.
|
Skrining
|
·
Penjaringan
suspek atau pasien TB secara dini. Hal ini dilakukan dengan menggunakan form
skrining TB. Pasien dengan gejala batuk 2 minggu atau lebih atau dilaporkan
memiliki riwayat kontak dengan pasien TB perlu dipisahkan (isolasi) sementara
dari WBP dan tahanan lainnya.
|
|
2.
|
Edukasi
|
Mewajibkan WBP dan tahanan untuk menutup hidung dan
mulut saat batuk/bersin, bila perlu berikan saputangan/masker/tisu.
Tidak meludah sembarang tempat.
|
|
3.
|
Pemisahan
|
Suspek/pasien TB harus dipisahkan dari WBP dan tahanan
lainnya dan ditempatkan di dalam suatu ruang tersendiri.
|
|
4.
|
Diagnosis dan rujukan TB
|
Diagnosis TB sebaiknya dilakukan di dalam Lapas/Rutan.
Jika tidak tersedia fasilitas untuk diagnosis maka harus dirujuk ke FASYANKES
yang memiliki fasilitas diagnosis mikroskopik dahak.
|
|
5.
|
Pengelolaan hunian yang sehat
|
Ventilasi ruangan dan pencahayaan yang cukup, sirkulasi
udara yang baik. Pengelolaan sanitasi, termasuk dengan mengurangi kepadatan
hunian
|
|
6.
|
Penyediaan alat pelindung bagi petugas
|
Penggunaan masker khusus bagi petugas pada saat
melaksanakan pemeriksaan.
|
3. Infeksi Menular Seksual
Definisi
·
IMS
adalah infeksi yang terjadi karena penularan melalui hubungan seksual.
·
Pengendalian IMS adalah upaya yang dilakukan secara komprehensif
dan integratif untuk menurunkan angka kesakitan dan angka kematian akibat IMS.
Penyebab
·
Beberapa
organisme penyebab:
1.
Bakteri:
Neisseria gonorrhoeae, Chlamydia
trachomatis, Treponema pallidum, Gardanella vaginalis, Haemophilus ducreyi,
Donavania granulomatis, Mycoplasma hominis, Ureaplasma urealycum.
2. Virus: Herpes simplex, Human papilloma, Hepatitis, Cytomegalovirus, HIV.
3. Protozoa: Trichomonas vaginalis
4.
Jamur:
Candida albicans
5.
Ektoparasit:
Phtirus pubis, Sarcoptes scabei.
Perilaku yang
dapat mempermudah penularan IMS?
Berhubungan seks berisiko antara
lain :
·
berganti-ganti
pasangan,
·
pelacuran,
·
tidak
menggunakan kondom saat melakukan seks berisiko
Gejala IMS:
·
Keputihan
yang tidak normal
·
Keluar
cairan tidak normal dari penis
·
Luka
pada dan sekitar alat kelamin
·
Nyeri
perut bagian bawah pada perempuan
·
Pembengkakan
testis / skrotum
·
Tumbuhan
vegetasi (kutil/jengger)
·
Radang
mata pada bayi baru lahir
Jenis-jenis
IMS antara lain :
1. Gonore Kencing nanah, uretritis spesifik (GO)
Disebabkan
oleh kuman Neisseria gonorrhea.
Terjadi di seluruh dunia; menyerang laki-laki dan perempuan semua usia,
terutama kelompok dewasa muda. Jenis yang kebal obat sekarang muncul secara
umum dimana-mana. Selama beberapa bulan, pasien yang tidak diobati bisa
menulari orang lain. Terinfeksi dengan klamidia pada saat yang bersamaan juga
bukanlah hal yang janggal.
Gejala dan tanda
Pada
laki-laki dan perempuan, infeksi ini bisa tanpa gejala. Pada laki-laki, cairan
yang kental dari saluran kencing akan keluar 2-7 hari setelah terinfeksi.
Biasanya orang menderita sakit waktu kencing. Bila orang melakukan seks anal,
mungkin juga keluar cairan yang sama dari dubur. Pada perempuan, gejala
biasanya ringan dan ada kemungkinan untuk tidak terdeteksi. Mungkin ada
perasaan tidak enak waktu kencing. Selain itu, mungkin ada sedikit cairan dan
sedikit gangguan di vagina. Infeksi yang kronis umum terjadi dan bisa
menyebabkan kemandulan. Bayi baru lahir yang terinfeksi gonore, matanya merah
dan bengkak. Dalam waktu 1-5 hari setelah kelahiran, mata itu akan mengeluarkan
cairan yang kental. Kebutaan bisa terjadi bila pengobatan khusus tidak segera
diberikan.
Diagnosis
adalah dengan pemeriksaan mikroskopik gramstrain dari smear yang diambil dari
cairan itu ataupun dengan cara pembiakan
2. Klamidia
/ Uretritis non-gonore, uretritis non-spesifik (UNS)
Antara
35-50 persen dari kasus penyakit kelamin non-gonore diperkirakan disebabkan oleh
Chlamydia trachomatis, yang terjadi
secara umum di seluruh dunia. Pada perempuan, penyakit ini bisa menyebabkan
radang leher rahim mucopurulent walaupun infeksi biasanya tanpa gejala. Infeksi
klamidia yang terjadi berulang kali biasanya bisa menyebabkan penyakit
peradangan leher rahim kronis dan kemandulan. Penularan terjadi lewat sanggama.
Penyakit ini bisa menyerang baik laki-laki maupun perempuan semua usia,
terutama dewasa muda.
Gejala dan tanda
Sama
seperti gonore. Perbedaan adalah banyak perempuan yang terinfeksi tidak
menunjukkan gejala apapun. Komplikasi yang menyebabkan kemandulan pada
perempuan juga umum terjadi. Infeksi mata mungkin menyerang bayi yang
dilahirkan oleh perempuan yang terinfeksi. Diagnosis biasanya didasari oleh
tidak adanya kuman penyebab gonore pada smear atau pada pembiakan cairan dari
leher rahim atau dari uretra (lubang kencing).Hal ini bisa dipastikan dengan
mengetes cairan smear untuk melihat adanya antigen klamidia.
3. Sifilis
/ Raja singa
Disebabkan
oleh Treponema pallidum, yaitu sebuah
spirochete (bakteri yang berbentuk
spiral). Terjadi di seluruh dunia, terutama menyerang dewasa muda usia 20-35
tahun, lebih lazim terjadi di daerah perkotaan. Baru-baru ini ada kenaikan
jumlah kasus di beberapa negara industri yang dihubungkan dengan penggunaan
narkoba dan pelacuran. Penularan terjadi melalui kontak langsung antara luka
(yang bernanah atau yang membengkak) di kulit dengan selaput lender atau dengan
cairan tubuh (air mani, darah,cairan vagina) selama sanggama.Penularan bisa terjadi
melalui transfuse darah bila donor berada dalam tahap awal infeksi tersebut.
Infeksi bisa ditularkan dari seorang ibu yang terinfeksi kepada bayinya yang
belum lahir. Hal ini merupakan penyebab penting terjadinya kelahiran bayi yang
meninggal di daerah daerah endemis
Gejala dan tanda
Sebuah
luka mula-mula muncul beberapa minggu setelah tertular, luka ini biasanya
merupakan borok yang tidak sakit di daerah tempat hubungan pertama kali terjadi
(penis, leher rahim, dubur, dinding belakang kerongkongan/faring).
Kuman kemudian memasuki aliran darah; dalam waktu 1-3 bulan muncul tahap kedua.
Tahap ini ditandai dengan ruam yang menyebar dan pembengkakan kelenjar. Setelah
masa laten selama 5-20 tahun dengan sedikit atau tanpa gejala, tahap ketiga
dari sifilis ini bisa termasuk penyakit-penyakit yang menyerang susunan saraf
pusat atau sistim kardiovaskular, yang bisa menyebabkan kelumpuhan dan kematian
muda. Diagnosis laboratorium biasanya dilakukan dengan memakai tes serologi
dari darah atau cairan serebrospinal.
Strategi
Strategi yang dilakukan
mengacu kepada 4 pilar pengendalian IMS :
•
Perubahan perilaku berisiko menjadi tidak berisiko
•
Promosi penggunaan kondom secara terus menerus
•
Keterlibatan sektor terkait untuk menciptakan lingkungan yang
kondusif
•
Layanan IMS (dan HIV-AIDS) yang memadai, baik untuk kelompok
berperilaku risiko tinggi maupun non-risiko tinggi.
Kegiatan
1.
Tatalaksana Kasus Komprehensif
•
Skrining
•
Pengobatan (pendekatan sindrom dan laboratorium)
•
Rujukan
•
pengobatan presumtif baik secara tunggal maupun periodik (periodic
presumptive treatment)
2.
Intervensi Perubahan Perilaku
Pengembangan kelompok dukungan sebaya (KDS)
3.
Penguatan Komunitas termasuk pemangku kepentingan dan mitra
Pengembangan pokja
4.
Promosi Penggunaan Kondom
•
dikelompok risiko tinggi
•
sebagai bagian layanan tatalaksana kasus
5.
Penguatan Manajemen Program
•
Pelatihan manajemen program
•
Pelatihan tatalaksana kasus komprehensif
•
Supervisi dan mentoring
6. Penguatan sistem logistik : obat, reagen, kondom
7. Monitoring dan Evaluasi

Zahrah Khairunnisa
0 comments
Post a Comment