Paper
6
Cerpen
tentang manusia dan kasih sayang.
Hari
Terakhir
Dengan
raut wajah tak begitu ikhlas,ayah mengantarkan gadis itu. Sesekali laki-laki itu
menatap ke luar jendela taksi.Di luar sana tak banyak angkutan umum dan mobil
pribadi yang berlalu-lalang. Kendaraan yang berlalu lalang hanyalah angkutan
umum dan beberapa taksi. Berbeda dengan jakarta yang penuh sesak dengan
macam-macam kendaraan bermotor dengan bentuk yang sama.
Risa,anak
ayah satu-satunya berusaha mengatur napas. Ini yang pertama baginya. Dia belum
pernah ke kota ini. Biasanya nenek yang mengunjungi jakarta di temani suster
nya.
“ini
gara gara si nenek tua itu” ucap risa dalam hati.
“nak,ini cuman sementara ya,nanti di saat usaha ayah
sudah lancar,kamu akan balik lagi ke jakarta,melanjutkan pendidikan kuliah dan
mengejar cita citamu melanjutkan kuliah di fakultas psikologi” ayah mencoba
memulai percakapan.
“tapi bukan begini juga caranya ayah! Aku tidak
mengerti bagaimana caranya mengurus orang tua!” bentak risa.
Besoknya,risa sudah mulai mengurus neneknya.
“nenek harus makan,kalau tidak makan nanti ngga bisa
minum obat.” “masakan lisa tidak enak. Nenek
engga suka”.
“namaku risa nek bukan lisa,masa nenek lupa sih?”
“lisa nenek mau makan kue”
“risa nek risa!” bentak risa dengan kesal.
Nenek mulai berdiri perlahan-lahan dari tempat
duduknya dn langsung mengambil setoples kue,dia makan kue dengan sangat
belepotan. Risa langsung mendekatinya dan membasuh bibirnya yang belepotan.
“lisa disini terus kan menemani saya?”
“iya nek,kita saling menemani kok.. kan kita cuman
berdua disini.”
Enam
bulan kemudian risa sudah terbiasa mengurus nenek di toraja. Dan lambat laun
dia mulai terbiasa dengan suasana toraja dan sudah terbiasa mengurus nenek. Hingga
pada suatu saat dia mengobrol santai dengan nenek di teras.
“nenek mau ikut ke jakarta?tinggal bersamaku?” tanya
risa
“Tinggal disini aja ya. Saya sudah lama disini ”
“lisa juga tinggal disini aja ya?”
“namaku risa nenek,bukan lisa”
Nenek tersenyum. Matanya bersinar hangat. Baru kali
ini risa merasa ada sesuatu yang aneh bergerak di dadanya. Perasaan yang
sebelumnya tak pernah dia rasakan. Percakapan dari hati ke hati,walaupun tak
terdengar jelas apa yang nenek bicarakan tetapi sedikit demi sedikit menyentuh
hati risa juga.
Kemudian malam hari nya nenek tertidur pulas di
samping risa. Sebelum nenek tidur, risa membacakan sebuah cerita dari buku yang
dia bawa dari jakarta. Dan nenek,walau mungkin tak paham,tampak menyimak dengan
senang. Gadis itu lalu merapikan selimut nenek agar dapat membungkus tubuh
nenek. Risa sangat sayang dengan nenek. Dan dia pun tak ingin pulang.
Besok paginya,risa tak pernah mengira kejadian itu
terjadi sebuah peristiwa yang mengejutkannya. Belum sempat dia merapikan
rumah,menyiapkan srapan, dan mandi,teriakan nenek dari kamar mandi seolah
menghentikan jantungnya. Secapat mungkin risa berlari menyusulnya.
“nenek saya terjatuh dari kamar mandi, saya nggak
tahu beliau tadi pagi ke kamar mandi sendirian,ini salah saya dok!” tangis risa saat menelepon dokter.
Gemuruh sirine terdengar memekkan telinga. Risa tak
ingin kehilangan seseorang yang dia sayangi lagi. Cukup kakek yang pergi,nenek
tak boleh pergi.
Di ambulans nenek menghirup oksigen yang mengalir
dari tabung oksigen. Matanya terpejam, tapi tak lama kemudian terbuka. Risa bercucuran
air mata di sebelahnya tanpa suara.
“lisa...”
“nenek bilang tadi malam selalu ingin ku temani. Megapa
sekarang sakit begini?” potong risa.
“lisa jangan menangis..”
Risa tak menjawab. Tangisnta malah semakin tak
terdengar.
“lisa tak apa apa nenek tinggal sendirian ya?” nenek
menggenggam tangan kanan risa rapat rapat.
Risa tak sanggup menjawab,tangan kirinya seolah
menghapus cepat air matanya.
“lisa jaga diri baik baik ya”
Risa berusaha tersenyum walau matanya kini sudah
memerah. Genggaman tangan nenek sudah melemas dan tidak kuat lagi.
Nenek menghembuskan napas terakhir.
Ya, risa tahu tahu ini akan terjadi walaupun dia tak
ingin. Dia mencium kening nenek dan berbisik “Innalillahi wainnailaihi rojiun..
selamat jalan nek. Risa sayang nenek”
THE
END.

Zahrah Khairunnisa
0 comments
Post a Comment