Nama :
Zahrah Khairunnisa
NPM :
17515381
Kelas :
2PA13
PTI
DALAM INTERPERSONAL 2
Saat ini banyak sekali orang-orang
di sekitar kita yang tidak dapat lepas dari gadget-nya. Bahkan disaat sedang
berjalan maupun sedang berbincang dengan orang lain perhatian mereka tidak
lepas dari gadget mereka masing-masing.
Internet
Addiction
Internet menjadi teman yang paling
setia dan paling dibutuhkan. Memang, tidak dapat kita pungkiri perkembangan
zaman juga menuntut kita untuk menggunakan internet. Namun, jika kita tidak
dapat membatasinya maka hal ini dapat menimbulkan suatu gangguan yang sering
disebut oleh para ahli jiwa sebagai Internet
Addiction Disorder (IAD) atau gangguan kecanduan internet.
Internet Addiction Disorder (IAD)
adalah gangguan kecanduan yang disebabkan oleh internet. Berdasarkan jurnal
Kecanduan Internet dan Terapi Kognitif Perilaku: Sebuah Tinjauan Ringkas
(Internet Addiction Disorder and Cognitive Behavioral Therapy) disebutkan,
bahwa Kecanduan Internet (Internet Addiction Disorder = IAD) mengacu pada
penggunaan Internet yang bermasalah, termasuk beragam aspek dari teknologi
Internet yang berkaitan, seperti email dan World Wide Web. Hal ini meliputi
segala macam yang berhubungan dengan internet seperti jejaring sosial, email,
dan chatting yang termasuk kedalam kecanduan hubungan cyber (Cyber Relationship
Addiction), pornografi yang termasuk kedalam kecanduan cybersex, game online
yang termasuk kedalam net compulsion,
dan sebagainya. Menurut sumber, telah diadakan suatu penelitian di
negara-negara di Asia seperti China dan Korea Selatan yang menyatakan bahwa
kecanduan internet memiliki gejala yang serupa dengan kecanduan terhadap
alcohol, narkoba dan obat-obatan lainnya. Kondisi ini pertama kali ditemukan
oleh seorang ahli jiwa bernama Ivan Goldberg. Berikut merupakan beberapa
tanda-tanda seseorang yang menderita gangguan Internet Addiction Disorder
berdasarkan jurnal Kecanduan Internet dan Terapi Kognitif Perilaku: Sebuah
Tinjauan Ringkas (Internet Addiction Disorder and Cognitive Behavioral Therapy)
:
a. Tidak dapat melacak waktu yang
dilakukan untuk online
b. Memiliki masalah untuk
menyelesaikan tugas-tugas pekerjaan atau di rumah
c. Terisolasi dari keluarga dan
teman
d. Merasa bersalah atau defensif
terhadap penggunaan internet
e. Merasa semacam euphoria jika
sedang terlibat dalam aktivitas internet
Berikut beberapa cara mudah yang
dapat digunakan untuk mengatasi gangguan kecanduan internet.
• Mengakui bahwa anda seorang
penderita gangguan kecanduan internet
Pengakuan merupakan hal yang paling
awal untuk mengatasi suatu gangguan. Biasanya seorang penderita suatu ganguan
sangat sulit mengakui bahwa dirinya mengalami gangguan tersebut.
• Mengetahui penyebab dari gangguan
kecanduan internet pada diri sendiri
Sebelum mengatasi gangguan ini, ada
baiknya kita mengetahui terlebih dahulu apa yang menyebabkan kita kecanduan
internet. Misalnya, tidak dapat terlepas dari internet karena chatting secara
terus menerus atau bermain game on-line secara berlebihan. Dengan mengetahui
penyebabnya, akan lebih mudah bagi kita untuk mengatasinya.
• Mengetahui dampak buruk gangguan
kecanduan internet
Setelah mengetahui penyebabnya kita
juga harus tahu dampaknya. Mengapa? Karena dengan mengetahui dampak buruk
kecanduan internet kita dapat termotivasi untuk mengurangi penggunaan internet
agar terhindar dari dampak buruk tersebut. Banyak sekali dampak buruk yang
disebabkan oleh kecanduan internet, misalnya menjadi depresi, antisocial,
menyebabkan banyak penyakit fisik, putus sekolah, dan sebagainya.
• Membatasi penggunaan internet
Hal ini merupakan hal yang paling
utama dan merupakan intinya. Percuma saja jika kita mengakui bahwa kita seorang
pecandu internet, mengetahui penyebab dan dampaknya namun tidak mengurangi
penggunaan internet. Kita harus bisa memilih mana hal yang dapat kita lakukan
tanpa menggunakan internet mana hal yang harus kita gunakan dengan internet.
Selama kita bisa melakukan sesuatu tanpa menggunakan internet mengapa tidak
dicoba, seperti disaat kita membutuhkan hiburan kita masih bisa bermain
permainan lain selain game online atau disaat kita ingin mengobrol selama masih
bisa bertemu dengan lawan bicara secara langsung sebaiknya kita berbicara face
to face dibandingkan lewat chatting atau e-mail.
• Meluangkan waktu untuk
bersosialisasi dengan lingkungan sekitar
Internet dapat membuat kita menjadi
seorang yang apatis. Nah, untuk itu kita harus meluangkan waktu yang lebih
dengan orang-orang disekitar kita. Dengan ini kita dapat mengalihkan pikiran
kita agar tidak kecanduan dengan internet. Hal ini dapat kita mulai dari
lingkukan yang paling kecil yaitu keluarga. Kita dapat menghabiskan waktu kita
dengan berbincang-bincang dengan keluarga tercinta untuk mengisi waktu luang
kita. Selain mempererat rasa kekeluargaan kita juga dapat terhindar dari
kecanduan internet.
Jika tingkat kecanduan gangguan ini
sudah parah, maka sebaiknya dikonsultasikan kepada ahlinya. Memang karena
gangguan kecanduan internet ini masih tergolong baru, penelitian tentang
pengobatannya-pun masih sedikit. Jika kecanduan internet yang diderita
seseorang memiliki dimensi biologis, maka obat-obatan anti-depresan atau anti
kecemasan dapat digunakan. Beberapa ahli menyarankan penghentian total
penggunaan internet, namun ahli lain mengatakan bahwahal tersebut tidak
realistis.
Jenis-jenis
Addiction
Berikut ini adalah sub-sub tipe
dari internet addiction menurut Kimberly S. Young, (2006):
a. Cybersexual Addiction,
Termasuk ke dalam cybersexual
addiction antara lain adalah individu yang secara kompulsif mengunjungi
website-website khusus orang dewasa, melihat hal-hal yang berkaitan dengan
seksualitas yang tersaji secara eksplisit, dan terlibat dalam pengunduhan dan
distribusi gambar-gambar dan file-file khusus orang dewasa.
b. Cyber-Relationship Addiction
Cyber-relationship addiction
mengacu pada individu yang senang mencari teman atau relasi secara online.
Individu tersebut menjadi kecanduan untuk ikut dalam layanan chat room dan
seringkali menjadi terlalu-terlibat dalam hubungan pertemanan online atau terikat
dalam perselingkuhan virtual.
c. Net compulsions
Yang termasuk dalam sub tipe net
compulsions misalnya perjudian online, belanja online, dan perdagangan online.
d. Information Overload
Mengacu pada jumlah kelebihan
informasi yang disediakan, membuat tugas-tugas pengolahan dan menyerap
informasi sangat sulit bagi individu karena kadang-kadang kita tidak dapat
melihat kebenaran di balik informasi.
C. Faktor Etiologi
Kecanduan didefinisikan sebagai
dorongan kebiasaan untuk terlibat dalam aktivitas tertentu atau menggunakan
zat, bukan dengan berdiri konsekuensi buruk pada individu fisik, sosial,
spiritual, mental, dan kesejahteraan finansial. Alih-alih mengatasi hambatan
hidup, mengatasi stres sehari-hari dan menghadapi trauma masa lalu atau sekarang,
pecandu merespon maladaptif dengan beralih ke mekanisme koping semu. Biasanya,
kecanduan memanifestasikan karakteristik psikologis dan fisik. Sebagai
kecanduan perilaku, fokus pada isu-isu psikologis yang meningkatkan konsumsi
internet adalah membantu untuk membantu dalam pemahaman klinis mengapa orang
berlebihan.
D. Kognitif-behavioral Model
Kecanduan teknologi sebagai bagian
dari kecanduan perilaku: kecanduan internet menampilkan komponen inti dari
kecanduan (kedudukan kentara, mood modifikasi, toleransi, penarikan, konflik
dan kambuh). Dari perspektif ini, pecandu internet ditampilkan arti-penting
kegiatan, sering mengalami keinginan dan perasaan disibukkan dengan internet
saat offline. Ia juga menunjukkan bahwa menggunakan internet sebagai cara untuk
menghindari perasaan mengganggu, mengembangkan toleransi internet untuk
mencapai kepuasan, mengalami penarikan, kapan mengurangi penggunaan intenet,
penderitaan saat meningkatnya konflik dengan orang lain karena aktivitas, dan
kambuh kembali ke internet juga tanda-tanda kecanduan. Model ini telah
diterapkan pada perilaku seks tersebut, berjalan, konsumsi makanan, dan
perjudian.
Situational Factors: Faktor
situasional berperan dalam pengembangan kecanduan internet. individu yang
merasa kewalahan atau yang mengalami masalah pribadi atau yang experince
mengubah hidup acara seperti divorve arecent, relokasi, atau kematian dapat
menyerap diri dalam dunia maya yang penuh fantasi dan intrik
E. Computer Supported Cooperative
Work
Computer Supported Cooperative Work
(CSCW) adalah sebuah istilah generik, yang menggabungkan pemahaman cara orang
bekerja dalam kelompok dengan teknologi yang memungkinkan jaringan komputer,
dan terkait perangkat keras, perangkat lunak, layanan dan teknik . Computer
Supported Cooperative Work (CSCW) menyebarluaskan hasil penelitian yang
inovatif dan memberikan sebuah forum interdisipliner untuk perdebatan dan
pertukaran gagasan tentang teori, masalah-masalah praktis, teknis, dan sosial
di CSCW. Jurnal meliputi sifat beragam penelitian dalam bidang dan daerah yang
terkait. Cakupan berkisar dari studi etnografi kerja koperasi untuk laporan
pada pengembangan sistem CSCW dan yayasan teknologi mereka.
Salah satu contoh sistem CSCW ini
adalah electronic mail (email). Email merupakan sistem CSCW yang bersifat
asynchronousyang tidak mengharuskan user bekerja pada waktu yang bersamaan.
Penerima mail tidak harus membuka suratnya pada waktu yang sama dengan terkirimnya
surat. Sebaliknya sistem CSCWsynchronous membutuhkan partisipasi simultan dari
para usernya. Perbedaan utama antara sistem CSCW dengan sistem interaksi
individual adalah tidak dapat diabaikannya aspek sosial kelompok dari user yang
tergabung. Sistem CSCW dibangun untuk memungkinkan interaksi antara user
melalui komputer sehingga kebutuhan sekian banyak user tersebut harus terpenuhi
dalam satu produk.
Istilah Computer Supported
Cooperative Work (CSCW) pertama kali digunakan oleh Irene Greif dan Paul M.
Cashman pada tahun 1984 pada sebuah workshop yang dihadiri oleh mereka yang
tertarik dalam menggunakan teknologi untuk memudahkan pekerjaan merekaPada
kesempatan yang sama pada tahun 1987 Dr. Charles Findley mempresentasikan
konsep collaborative learning workMenurut CSCW mengangkat isu seputar bagaimana
aktivitas-aktivitas kolaboratif dan koordinasi didalamnya dapat didukung
teknologi komputer. Beberapa orang menyamakan CSCW dengan groupware namun yang
lain mengatakan bahwa groupware merujuk kepada wujud nyata dari sistem berbasis
komputer, sedangkan CSCW berfokus pada studi mengenai kakas dan teknik dari
groupware itu sendiri, termasuk didalamnya efek yang timbul bail secara
psikologi maupun sosial.
Fenomena
Internet Addiction Pada Saat Ini
Perilaku ketergantungan yang nampak
dari manusia saat ini ialah candu media sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Sayangnya, candu akan perilaku ini memiliki dampak yang buruk. Seperti seorang
remaja berusia 19 tahun asal provinsi Jiangsu, Tiongkok, sengaja memotong
tangannya sendiri demi mengobati kecanduannya berinternet.
Menurut laporan televisi lokal
Jiangsu TV, remaja yang disebut sebagai 'Litlle Wang' itu memotong tangan
kirinya sendiri menggunakan pisau dapur di sebuah area 'kursi publik' (sejenis
taman umum).
Ibu dari 'Little Wang'
menceritakan, anaknya menyelinap keluar rumah pada sore hari sembari membawa
pisau dapur. Wang pergi ke area 'kursi publik' dan memotong tangannya, lalu ia
menelepon taksi untuk minta diantar ke rumah sakit.
Menurut yang dilansir laman The
Telegraph, Sabtu (7/2/2015), tim dokter bedah di rumah sakit A & E Jiangsu
berhasil mengobati kembali tangan kiri 'Little Wang'. Namun belum diketahui
apakah fungsinya dapat berfungsi kembali dengan normal atau tidak.
Keterangan pihak kepolisian
menyatakan bahwa 'Little Wang' adalah salah satu dari sekitar 24 juta remaja di
Tiongkok yang mengalami kecanduan internet. Menurut pengakuannya, 'Little Wang'
merasa frustasi menekan keinginan untuk terus mengakses internet dan bermain
game online.
Pihak pemerintah Tiongkok sendiri
telah memandang situasi ini dengan sangat serius. Kecanduan internet dianggap
sebagai epidemi yang menghancurkan generasi muda. Jumlah klinik dan asrama
rehabilitasi bagi para pecandu internet pun kini menjamur di Tiongkok.
Faktor
Etiologi
Kata “etiologi” terutama digunakan
dalam kedokteran sebagai ilmu yang mempelajari penyebab atau asal penyakit dan
faktor-faktor yang menghasilkan atau memengaruhi suatu penyakit tertentu atau
gangguan.
Bila disebutkan dalam makalah
kedokteran bahwa “etiologi tidak diketahui”, berarti kita tidak tahu
penyebabnya. Kata etiologi berasal dari bahasa Yunani “aitia” (penyebab) +
“logos” (ilmu). Kemudian,faktor-faktor dari etiologi adalah:
1. Cognitive-behavioral Model
Kecanduan teknologi sebagai bagian
dari kecanduan perilaku: kecanduan internet menampilkan komponen inti dari
kecanduan (kedudukan kentara, mood modifikasi, toleransi, penarikan, konflik
dan kambuh). Dari perspektif ini, pecandu internet ditampilkan arti-penting
kegiatan, sering mengalami keinginan dan perasaan disibukkan dengan internet
saat offline. Ia juga menunjukkan bahwa menggunakan internet sebagai cara untuk
menghindari perasaan mengganggu, mengembangkan toleransi internet untuk
mencapai kepuasan, mengalami penarikan, kapan mengurangi penggunaan intenet,
penderitaan saat meningkatnya konflik dengan orang lain karena aktivitas, dan
kambuh kembali ke internet juga tanda-tanda kecanduan. Model ini telah diterapkan
pada perilaku seks tersebut, berjalan, konsumsi makanan, dan perjudian.
2. Neuropsychological Model
Seorang individu akan
diklasifikasikan sebagai pecandu internet asalkan ia memenuhi siapa pun dari
tiga kondisi berikut: (1) salah satu akan merasa bahwa lebih mudah untuk
mencapai aktualisasi diri secara online daripada di kehidupan nyata, (2) salah
satu akan pengalaman dysphoria dan depresi setiap kali akses ke internet rusak
atau kusut berfungsi, (3) orang akan mencoba untuk menyembunyikan waktu
penggunaan yang benar nya dari anggota keluarga.
3. Situational Factors
Faktor situasional berperan dalam
pengembangan kecanduan internet. Individu yang merasa kewalahan atau yang
mengalami masalah pribadi atau yang experince mengubah hidup acara seperti
divorve arecent, relokasi, atau kematian dapat menyerap diri dalam dunia maya
yang penuh fantasi dan intrik.
Sumber:
http://kamuskesehatan.com/arti/etiologi/
0 comments
Post a Comment